17 | SERI MANAJEMEN RISIKO (Peran Manajemen Risiko Dalam Meningkatkan Keamanan Transaksi di BPR)

17 | SERI MANAJEMEN RISIKO (Peran Manajemen Risiko Dalam Meningkatkan Keamanan Transaksi di BPR)



PENDAHULUAN.


Bank Perekonomian Rakyat (BPR) memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian masyarakat. Dalam era digitalisasi, transaksi perbankan semakin canggih, tetapi risiko keamanan juga semakin meningkat. Oleh karena itu, manajemen risiko menjadi kunci utama dalam memastikan keamanan transaksi di BPR. 


MANAJEMEN RISIKO DAN KEAMANAN TRANSASKI.


Artikel ini akan membahas peran penting manajemen risiko dalam meningkatkan keamanan transaksi di BPR. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pihak Manajemen BPR, antara lain :


1. Identifikasi Risiko:

Langkah pertama dalam manajemen risiko adalah identifikasi risiko. BPR perlu melakukan analisis menyeluruh terhadap potensi risiko yang mungkin dihadapi, seperti risiko operasional, risiko kredit, dan risiko keamanan informasi. Dengan mengidentifikasi risiko secara jelas, BPR dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang lebih efektif.


2. Pengukuran Risiko:

Setelah identifikasi risiko, BPR perlu mengukur tingkat risiko yang terlibat dalam setiap aspek transaksi. Ini melibatkan penilaian terhadap dampak dan kemungkinan terjadinya risiko. Dengan pengukuran yang akurat, BPR dapat menentukan sejauh mana risiko dapat mempengaruhi keamanan transaksi dan mengambil langkah-langkah yang sesuai.


3. Pengendalian Risiko:

Pengendalian risiko melibatkan penerapan langkah-langkah untuk mengurangi atau menghilangkan risiko yang telah diidentifikasi. BPR harus mengembangkan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk memastikan keamanan transaksi, seperti otentikasi ganda, enkripsi data, dan pemantauan transaksi secara real-time. Pengendalian yang efektif akan memberikan perlindungan maksimal terhadap potensi ancaman.


4. Monitoring dan Evaluasi:

Manajemen risiko bukanlah langkah sekali jalan. BPR perlu secara terus-menerus memantau dan mengevaluasi efektivitas strategi manajemen risiko yang diterapkan. Dengan memahami perubahan lingkungan bisnis dan teknologi, BPR dapat melakukan penyesuaian yang diperlukan agar tetap relevan dan efektif dalam menghadapi risiko yang berkembang.


5. Edukasi dan Pelatihan:

Penting bagi BPR untuk melibatkan karyawan dan pelanggannya dalam upaya meningkatkan keamanan transaksi. Program edukasi dan pelatihan dapat membantu karyawan memahami risiko dan tugas mereka dalam menjaga keamanan transaksi. Pelanggan juga perlu diberikan pemahaman tentang tindakan keamanan yang dapat mereka ambil selama bertransaksi dengan BPR.


6. Kolaborasi dengan Pihak Eksternal:

BPR tidak boleh beroperasi secara terisolasi. Kolaborasi dengan lembaga keamanan informasi, regulator, dan ahli keamanan siber dapat memberikan perspektif tambahan dan dukungan dalam menghadapi risiko yang semakin kompleks. Pertukaran informasi dan kerjasama dapat memperkuat pertahanan terhadap ancaman keamanan.


CARA AMAN MELAKUKAN TRANSAKSI.


Berikut ini penulis uraikan secara rinci, bagaimana cara melakukan keamanan transaksi di BPR agar risikonnya sangat minim, sebagai berikut ;


1. Sistem Otentikasi Ganda:

Implementasikan sistem otentikasi ganda untuk memastikan bahwa setiap transaksi memerlukan lebih dari satu bentuk verifikasi identitas. Ini dapat melibatkan kombinasi kata sandi, token keamanan, atau otentikasi biometrik. Dengan cara ini, meskipun kata sandi terbocor, akses tetap terlindungi.


2. Enkripsi Data:

Pastikan semua data yang dikirim dan disimpan dienkripsi dengan metode keamanan yang kuat. Ini mencakup data pribadi pelanggan, informasi transaksi, dan data sensitif lainnya. Enkripsi membantu mencegah akses yang tidak sah dan melindungi informasi dari ancaman siber.


3. Pemantauan Transaksi Real-Time:

Terapkan sistem pemantauan transaksi secara real-time untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan dengan segera. Pemantauan yang aktif memungkinkan identifikasi dan respons cepat terhadap potensi kegiatan penipuan atau serangan siber.


4. Kebijakan Keamanan yang Ketat:

Bangun kebijakan keamanan yang jelas dan ketat, dan pastikan bahwa semua karyawan memahami dan mengikuti pedoman tersebut. Ini mencakup penggunaan sandi yang kuat, pembatasan akses berbasis peran, dan prosedur keamanan yang harus diikuti oleh semua anggota tim.


5. Pengelolaan Akses Pengguna:

Pengelolaan akses yang efektif adalah kunci untuk meminimalkan risiko. Berikan akses yang tepat kepada karyawan berdasarkan tugas dan tanggung jawab mereka. Pemantauan terhadap perubahan akses dan penghapusan akses segera setelah tidak diperlukan adalah langkah-langkah yang penting.


6. Sistem Keamanan Perangkat Keras dan Lunak Terbaru:

Pastikan bahwa semua perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan oleh BPR terus diperbarui dan dilindungi oleh pembaruan keamanan terbaru. Keamanan perangkat keras dan lunak yang tidak terkini rentan terhadap serangan keamanan, sementara pembaruan rutin dapat memperbaiki kerentanannya.


7. Pendidikan Keamanan bagi Karyawan dan Pelanggan:

Lakukan pelatihan rutin bagi karyawan mengenai praktik keamanan terbaik dan potensi ancaman. Edukasi pelanggan juga penting untuk memastikan bahwa mereka memahami langkah-langkah keamanan yang perlu diambil selama bertransaksi.


8. Backup dan Pemulihan Data:

Lakukan pencadangan data secara teratur dan siapkan rencana pemulihan bencana. Jika terjadi insiden keamanan atau kehilangan data, pemulihan yang cepat dapat membantu membatasi kerugian dan memulihkan operasional secepat mungkin


9. Audit Keamanan Secara Berkala:

Lakukan audit keamanan secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas sistem keamanan yang ada. Audit ini dapat membantu mengidentifikasi celah keamanan yang mungkin tidak terdeteksi dan memastikan bahwa sistem keamanan terus diperbarui sesuai dengan perkembangan teknologi.


10. Kolaborasi dengan Pihak Eksternal:

Jalin kerjasama dengan ahli keamanan siber eksternal dan lembaga keamanan informasi. Pihak eksternal dapat memberikan wawasan tambahan tentang tren keamanan terbaru dan memberikan penilaian independen terhadap tingkat keamanan BPR.


Dengan menerapkan langkah-langkah ini secara menyeluruh, BPR dapat mengurangi risiko keamanan transaksi secara signifikan, membangun kepercayaan pelanggan, dan menjaga integritas lembaga perbankan dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks.


KESIMPULAN.


Manajemen risiko merupakan pondasi utama dalam menjaga keamanan transaksi di BPR. Dengan pendekatan yang komprehensif dan proaktif terhadap risiko, BPR dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan, menjaga reputasi, dan memastikan kelangsungan operasional dalam lingkungan bisnis yang penuh tantangan. Investasi dalam manajemen risiko bukanlah hanya kebutuhan, tetapi juga suatu keharusan untuk menjaga keamanan transaksi dan integritas lembaga perbankan.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 20 Desember 2023.


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

16 | SERI MANAJEMEN PERKREDITAN (Prospek Kredit Dengan Agunan Logam Mulia)

16 | SERI MANAJEMEN PERKREDITAN (Prospek Kredit Dengan Agunan Logam Mulia)


Telah kita fahami Bersama, bahwa saat ini mencari nasabah kredit atau calon debitur menjadi lebih sulit ketimbang di atas10 tahun yang lalu. Ini terjadi, karena sektor UMKM  yang merupakan pangsa pasar Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mulai digerogoti oleh pesaing  pesaingnya, antara lain : KSP, BMT, Perusahaan Leasing / Multifinance, LKM, Bank Umum, serta Perusahaan Fintech.



PERSAINGAN KETAT DI SEKTOR UMKM


Sektor UMKM merupakan pangsa pasar yang menarik bagi berbagai lembaga keuangan, termasuk Bank Umum dan Perusahaan Fintech yang merupakan pesaing yang serius dan paling diperhitungkan. Ada beberapa alasan mengapa sektor UMKM semakin dilirik oleh Bank Umum dan fintech, yakni :




AGUNAN LOGAM MULIA SEBAGAI SOLUSI


Dalam upaya untuk memberikan solusi kredit yang inovatif, BPR kini menghadirkan prospek kredit dengan agunan logam mulia, terutama mas batangan. Artikel ini akan menguraikan secara rinci prospek dari jenis kredit ini dan dampaknya terhadap nasabah dan BPR, sebagai berikut :


1) Agunan Logam Mulia:

Agunan logam mulia, khususnya mas batangan, telah menjadi pilihan yang menarik sebagai jaminan dalam transaksi keuangan. BPR memanfaatkan hal ini sebagai landasan untuk memberikan kredit dengan syarat yang lebih menguntungkan.


2) Keuntungan bagi Nasabah:



3) Manfaat bagi BPR.


Adapun manfaat yang bisa diperoleh BPR melalui produk kredit dengan agunan Logam Mulia berupa Mas Batangan, antara lain :



4) Tantangan dan Pertimbangan.

Penting untuk diingat bahwa nilai logam mulia dapat mengalami fluktuasi. Ini menimbulkan tantangan dalam menentukan nilai agunan yang akurat dan mengelola risiko terkait dengan perubahan harga logam.


5) Kesimpulan :

Prospek kredit dengan agunan logam mulia mas batangan pada BPR menawarkan peluang yang signifikan bagi nasabah dan lembaga keuangan itu sendiri. Dengan keuntungan suku bunga yang bersaing, fleksibilitas, dan manfaat diversifikasi, jenis kredit ini dapat menjadi pilihan yang menarik untuk memenuhi kebutuhan finansial nasabah sambil memperkuat posisi BPR di pasar. 


Meskipun demikian, perlu diingat bahwa risiko fluktuasi harga logam tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam proses ini.



Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 5 Desember 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

15 | SERI MANAJEMEN PERUBAHAN (Ekonomi Hijau dan Peran BPR di dalamnya)

SERI MANAJEMEN PERUBAHAN

EKONOMI HIJAU DAN PERAN BPR DI DALAMNYA


Ekonomi Hijau, juga dikenal dengan istilah ekonomi berkelanjutan. Hal ini merujuk pada suatu sistem ekonomi yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi yang seimbang dengan pelestarian lingkungan dan penggunaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. 


Prinsip utama dari Ekonomi Hijau adalah menciptakan keberlanjutan jangka panjang dengan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, serta mendorong inovasi yang mendukung pemulihan ekosistem alami. Berikut adalah beberapa poin kunci yang menjelaskan Ekonomi Hijau, yakni :


1. Pertumbuhan Berkelanjutan : 

Ekonomi Hijau bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ini berarti pertumbuhan ekonomi yang tidak melebihi kapasitas planet dan tidak merusak ekosistem alami.


2. Efisiensi Sumber Daya : 

Prinsip dasar Ekonomi Hijau adalah efisiensi dalam penggunaan sumber daya alam. Ini mencakup upaya untuk mengurangi limbah, mengoptimalkan proses produksi, dan memaksimalkan output dari sumber daya yang digunakan.


3. Kurangi Emisi dan Polusi : 

Ekonomi Hijau berfokus pada mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi lingkungan. Hal ini sering melibatkan regulasi ketat terhadap industri dan teknologi bersih yang mendukung pengurangan emisi.


4. Investasi dalam Energi Terbarukan : 

Salah satu aspek penting dari Ekonomi Hijau adalah peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidro. Investasi dalam teknologi energi bersih adalah prioritas utama dalam Ekonomi Hijau.


5. Pendukung Inovasi : 

Ekonomi Hijau mendorong inovasi dalam teknologi, produk, dan layanan yang ramah lingkungan. Inovasi ini dapat menciptakan peluang bisnis baru dan pekerjaan dalam sektor-sektor yang mendukung keberlanjutan.


6. Kebijakan Publik : 

Pemerintah sering memainkan peran penting dalam mendorong Ekonomi Hijau melalui kebijakan yang mendukung lingkungan, seperti insentif untuk energi terbarukan, pajak karbon, dan regulasi ketat terhadap polusi.


7. Kesadaran Lingkungan : 

Kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang isu-isu lingkungan sangat penting dalam mendukung Ekonomi Hijau. Konsumen yang sadar lingkungan dapat mempengaruhi permintaan untuk produk dan layanan yang berkelanjutan.


8. Pembangunan Berkelanjutan :

Pembangunan Ekonomi Hijau harus berfokus pada pembangunan berkelanjutan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.


9. Kemitraan dan Kolaborasi :

Ekonomi Hijau sering melibatkan kemitraan dan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan LSM untuk mencapai tujuan keberlanjutan.


10. Evaluasi Dampak Lingkungan :

Dalam Ekonomi Hijau, perusahaan dan proyek-proyek dievaluasi berdasarkan dampak lingkungan mereka. Ini dapat termasuk perhitungan jejak karbon, analisis dampak lingkungan, dan perhitungan nilai eksternalitas negatif.


Ekonomi Hijau adalah tanggapan terhadap tantangan lingkungan yang semakin meningkat dan perubahan iklim. Tujuannya adalah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang seimbang dengan kesejahteraan sosial dan pelestarian lingkungan alami, menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi saat ini dan mendatang.


Peran BPR dalam pembangunan Ekonomi Hijau di Indonesia sangat penting. Mereka memiliki akses ke komunitas lokal, pemahaman tentang kebutuhan pasar, dan fleksibilitas untuk mendukung proyek-proyek berkelanjutan. 


Dengan komitmen untuk mendukung praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, BPR dapat menjadi mitra penting untuk turut mewujudkannya.



Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 30 Oktober 2023.


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

14 | SERI MANAJEMEN DANA (Tips Agar Likuiditas BPR/LKM Selalu Sehat)

SERI MANAJEMEN DANA

TIPS AGAR LIKUIDITAS BPR/LKM SELALU SEHAT


Pada kesempatan kali ini, Kita akan membahas suatu topik yang menarik dan sangat penting bagi Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), yakni Ketersediaan Likuiditas.


Di sini Penulis juga akan memberikan sedikit ilustrasi pentingnya likuiditas bagi Bank pada saat terjadinya krisis keuangan.  


Ketersediaan dana yang memadai adalah hal mutlak yang harus ada pada BPR dan LKM. Karena, dana ibarat darah dalam tubuh manusia. Pada saat seseorang mengalami kekurangan darah, maka harus dilakukan transfusi atau penambahan darah. Jika ini tidak dilakukan, maka akan menyebabkan kematian. 


Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997-1998, yang lebih dikenal sebagai Krisis Keuangan Asia, merupakan periode saat sejumlah negara di Asia mengalami krisis ekonomi yang sangat parah. Krisis ini berdampak serius pada sektor keuangan, termasuk bank-bank di berbagai negara Asia. Banyak bank yang mengalami persoalan likuiditas yang serius.


Parahnya krisis moneter tahun 1997-1998 memberikan dampak yang berat pada sektor keuangan, terutama sektor perbankan. Beberapa peristiwa yang terjadi pada saat itu, antara   lain :


1. Penarikan Dana yang Besar : 

Selama krisis, banyak nasabah dan investor panik, yang mengakibatkan penarikan dananya dari bank secara besar-besaran. Bank-bank perlu memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi tuntutan penarikan dana nasabah.


2. Penurunan Nilai Aset : 

Nilai aset bank, terutama pinjaman yang diberikan kepada pihak-pihak yang terdampak krisis, mengalami penurunan tajam. Untuk mengatasi risiko kredit yang meningkat, bank perlu cadangan likuiditas untuk menutupi potensi kerugian.


3. Peningkatan Biaya Dana : 

Suku bunga jangka pendek cenderung meningkat selama krisis keuangan, yang dapat meningkatkan biaya pendanaan bank. Oleh karena itu, bank perlu likuiditas tambahan untuk memenuhi kewajiban finansial mereka.


4. Peran Regulator : 

Regulator dan pihak berwenang membantu mengupayakan bank agar mampu menjaga likuiditas  pada level tertentu selama krisis, untuk memastikan stabilitas sektor keuangan dan mencegah bank yang gagal bayar. 


5. Kesempatan Investasi : 

Selama krisis, banyak kesempatan untuk mengakuisisi aset-aset dengan harga murah. Untuk mengambil manfaat dari situasi ini, bank sepatutnya perlu memiliki likuiditas yang cukup untuk berinvestasi dalam aset-aset berkualitas yang mungkin tersedia.


Bank-bank yang memiliki likuidiatas yang memadai bisa bertahan dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, menjaga kepercayaan nasabah, dan memenuhi kewajiban finansial mereka. Bank-bank yang memiliki cadangan likuiditas yang lebih dapat menghadapi krisis dengan lebih baik dan memanfaatkan peluang yang mungkin muncul selama periode krisis.


Menjaga likuiditas yang sehat sangat penting untuk BPR dan LKM agar dapat beroperasi dengan baik dan memenuhi kebutuhan keuangan nasabah. Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu dalam menjaga agar likuiditas BPR / LKM selalu ehat :


1. Diversifikasi Sumber Dana : Pastikan Anda memiliki beragam sumber dana. Jangan hanya mengandalkan satu sumber dana, seperti tabungan nasabah. BPR dan LKM sebaiknya memiliki sumber dana yang berasal dari simpanan nasabah, pinjaman dari lembaga keuangan lain, atau dana sendiri.


2. Monitoring yang Ketat : Pantau likuiditas secara teratur. Anda harus memiliki sistem dan prosedur yang kuat untuk mengukur, melacak, dan memproyeksikan arus kas. Ini memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi potensi masalah likuiditas lebih awal.


3. Pengelolaan Portofolio Pinjaman : Kelola portofolio pinjaman dengan hati-hati. Pastikan bahwa pemberian pinjaman dan penagihan dilakukan secara efisien. Hal ini membantu menghindari terlalu banyak pinjaman bermasalah yang dapat mengganggu arus kas.


4. Simpanan yang Stabil : Upayakan untuk memiliki basis simpanan yang stabil. Dorong nasabah untuk menyimpan dana dalam simpanan jangka panjang seperti deposito, sertifikat deposito, atau rekening tabungan dengan jangka waktu tertentu. Ini dapat membantu Anda memiliki sumber dana yang lebih terjamin.


5. Manajemen Risiko yang Baik : Identifikasi dan kelola risiko dengan baik. Pastikan Anda memiliki kebijakan yang tepat untuk mengelola risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional. Pengelolaan risiko yang baik dapat menghindari masalah likuiditas yang diakibatkan oleh penurunan kualitas aset.


6. Cadangan Likuiditas : Miliki cadangan likuiditas yang cukup. Simpan dana dalam investasi yang dapat dengan mudah dicairkan ketika diperlukan. Hal ini dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan likuiditas yang sementara.


7. Diversifikasi Portofolio Investasi : Diversifikasikan portofolio investasi Anda. Jangan terlalu tergantung pada satu jenis investasi. Ini akan membantu mengelola risiko investasi dan meningkatkan likuiditas.


8. Rencanakan Stress Testing : Lakukan uji stres untuk mengukur bagaimana lembaga Anda akan bertahan dalam situasi krisis. Ini akan membantu Anda merencanakan tindakan yang diperlukan untuk menjaga likuiditas dalam skenario buruk.


9. Kepatuhan Terhadap Regulasi : Pastikan selalu mematuhi regulasi dan aturan yang berlaku. Ini akan membantu menghindari sanksi atau masalah hukum yang dapat mempengaruhi likuiditas.


10. Komunikasi yang Baik : Jaga komunikasi yang baik dengan nasabah, pemegang saham, dan pihak berkepentingan lainnya. Dalam situasi sulit, transparansi dan komunikasi yang baik dapat membantu mendapatkan dukungan dan pemahaman.


Mematuhi tips-tips di atas dapat membantu menjaga likuiditas yang sehat pada BPR atau LKM, yang pada gilirannya akan membantu lembaga tersebut tetap beroperasi dengan baik dan memberikan layanan yang baik kepada nasabah.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 25 Oktober 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy

13 | SERI MANAJEMEN PERUBAHAAN (Prospek Pertumbuhan BPR di Era Digital)

SERI MANAJEMEN PERUBAHAN

PROSPEK PERTUMBUHAN BPR DI ERA DIGITAL


Saat ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk cara Kita berinteraksi dengan institusi keuangan. Bank Perekonomian Rakyat (BPR) adalah salah satu entitas keuangan yang tidak luput dari dampak transformasi digital ini. 


Di era digital, BPR memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan, asalkan mereka mampu mengadaptasi diri dengan cepat dan efektif terhadap perubahan teknologi serta memahami kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.



Transformasi Digital dalam Dunia Perbankan.


Dalam beberapa tahun terakhir, sektor perbankan telah mengalami transformasi digital yang signifikan. Pergeseran ini mencakup penggunaan teknologi informasi, internet, dan perangkat mobile dalam memberikan layanan perbankan yang lebih efisien dan mudah diakses. 


Ini mencakup layanan seperti internet banking, mobile banking, dan berbagai aplikasi fintech yang memungkinkan nasabah untuk mengelola keuangan mereka dengan lebih efisien.


Pada kesempatan kali ini, Kita akan membahas suatu topik yang menarik, yaitu Prospek Pertumbuhan BPR di Era Digital. Hal ini sangat penting, mengingat sektor perbankan merupakan sektor relatif cepat mengalami disrupsi di era digital ini.


Disrupsi di sektor perbankan merujuk pada perubahan signifikan dalam cara bank beroperasi dan berinteraksi dengan nasabahnya, yang biasanya dipicu oleh teknologi digital, inovasi, dan perubahan perilaku konsumen. Disrupsi ini dapat mengganggu model bisnis tradisional perbankan dan mendorong adopsi teknologi seperti perbankan daring, fintech, dan pembayaran digital. Hal ini dapat mengubah cara bank menyediakan layanan, meningkatkan efisiensi, dan memengaruhi cara nasabah bertransaksi dan berinteraksi dengan lembaga keuangan.



Peluang Bagi BPR.


1. Mengikuti Perkembangan Teknologi :

Pertumbuhan BPR di era digital bergantung pada kemampuan mereka untuk mengikuti perkembangan teknologi. BPR perlu berinvestasi dalam infrastruktur teknologi yang memadai dan tetap memantau tren perbankan digital yang berkembang. Implementasi teknologi seperti sistem manajemen data yang canggih, keamanan informasi, dan layanan perbankan online yang memadai adalah langkah krusial.


2. Pelayanan yang Lebih Cepat dan Efisien :

Salah satu keunggulan yang dapat dimiliki BPR dalam era digital adalah memberikan layanan yang lebih cepat dan efisien kepada nasabah. Penerapan teknologi dalam proses bisnis mereka dapat mempercepat persetujuan kredit, pencairan pinjaman, serta pengelolaan rekening. Ini akan meningkatkan kepuasan pelanggan dan membantu BPR mendapatkan lebih banyak nasabah.


3. Diversifikasi Produk dan Layanan :

BPR juga perlu diversifikasi produk dan layanan mereka. Ini dapat mencakup penawaran berbagai jenis produk tabungan, investasi, dan kredit. Di era digital, BPR juga dapat menjalin kemitraan dengan penyedia fintech untuk menawarkan layanan tambahan seperti pembayaran digital, peer-to-peer lending, dan investasi online.


4. Keamanan Data dan Privasi :

Keamanan data dan privasi nasabah adalah hal yang sangat penting dalam era digital. BPR perlu memastikan bahwa mereka memiliki langkah-langkah keamanan yang kuat untuk melindungi informasi pelanggan. Ini termasuk penggunaan enkripsi data, pelatihan karyawan tentang ancaman keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data.



Tantangan yang Dihadapi BPR.


Selain peluang, BPR juga menghadapi sejumlah tantangan dalam pertumbuhan di era digital, yakni :


1. Persaingan yang Ketat :

Sektor perbankan digital sangat kompetitif dengan banyak pemain besar dan fintech startup yang bersaing untuk mendapatkan nasabah. BPR perlu bersaing dengan baik dalam hal inovasi, layanan pelanggan, dan tarif yang kompetitif.


2. Regulasi yang Kompleks :

Regulasi perbankan, terutama terkait dengan teknologi dan keamanan data, terus berubah. BPR perlu berinvestasi dalam pemahaman yang mendalam tentang peraturan-peraturan ini dan memastikan kepatuhan penuh.


3. Keterbatasan Sumber Daya :

BPR biasanya memiliki keterbatasan sumber daya dibandingkan dengan bank besar. Oleh karena itu, mereka perlu memilih teknologi dan strategi yang sesuai dengan anggaran mereka.



Kesimpulan.


Prospek pertumbuhan BPR di era digital sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi dan berinovasi. Dengan investasi dalam teknologi, keamanan data, dan diversifikasi layanan, BPR dapat tetap relevan dan bersaing di pasar yang semakin digital ini. Melalui pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan pelanggan, BPR dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh transformasi digital dalam dunia perbankan.


Dalam menjalani perjalanan transformasi digital, BPR dapat memanfaatkan potensi mereka sebagai lembaga keuangan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat lokal, serta reputasi dalam memberikan layanan yang lebih personal. Dengan strategi yang tepat, BPR dapat menjadi pemain utama dalam era perbankan digital yang sedang berkembang pesat.



Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 22 Oktober 2023.


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

12 | SERI MANAJEMEN RISIKO (Konsep Dasar Manajemen Risiko Dalam Bisnis Perbankan)

SERI MANAJEMEN RISIKO

KONSEP DASAR MANAJEMEN RISIKO DALAM BISNIS PERBANKAN


Manajemen Risiko adalah komponen yang terintegrasi dalam operasional bisnis perbankan yang kompleks. Institusi keuangan, terutama bank, beroperasi dalam lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian dan berbagai jenis risiko. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang Manajemen Risiko adalah suatu keniscayaan. 


Pada artikel ini, Kita akan membahas konsep dasar Manajemen Risiko dalam bisnis perbankan, menggali berbagai jenis risiko yang dihadapi bank, dan cara-cara mengelolanya.


Mengapa Manajemen Risiko Penting dalam Bisnis Perbankan


Manajemen Risiko dalam bisnis perbankan adalah suatu pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan, dan memonitor risiko yang mungkin dihadapi oleh bank. Risiko-risiko ini dapat memengaruhi kesehatan keuangan dan reputasi bank serta stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. 


Inilah alasannya mengapa Manajemen Risiko sangat penting dalam dunia Perbankan, yakni :


1. Perlindungan Aset dan Modal : 

Bank menghadapi risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, dan lainnya. Manajemen Risiko membantu melindungi aset dan modal bank dari dampak negatif risiko-risiko ini.


2. Kepatuhan Regulasi : 

Regulator keuangan memerlukan bank untuk mematuhi pedoman dan peraturan yang ketat. Manajemen Risiko membantu bank mematuhi persyaratan peraturan dan menghindari sanksi.


3. Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan : 

Bank yang efektif dalam Manajemen Risiko lebih dapat diandalkan oleh nasabah, sehingga meningkatkan kepercayaan pelanggan.


4. Stabilitas Sistem Keuangan : 

Bank adalah bagian integral dari sistem keuangan. Kegagalan bank besar dapat mengguncang stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Manajemen Risiko yang baik dapat membantu mencegah kegagalan semacam ini.



Jenis Risiko dalam Bisnis Perbankan.


1. Risiko Kredit : 

Ini muncul ketika nasabah gagal memenuhi kewajibannya dalam membayar pinjaman atau utangnya. Bank mengukur risiko kredit melalui analisis kredit yang cermat sebelum memberikan pinjaman.


2. Risiko Pasar : 

Risiko ini timbul dari fluktuasi harga aset, suku bunga, atau nilai tukar. Bank berusaha mengurangi risiko ini dengan diversifikasi portofolio investasinya.


3. Risiko Operasional : 

Ini melibatkan risiko yang timbul dari operasi sehari-hari bank, seperti risiko fraud, risiko teknologi, atau risiko manajemen. Bank harus memiliki prosedur dan pengendalian yang kuat untuk mengurangi risiko ini.


4. Risiko Likuiditas : 

Ini terkait dengan kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan saat jatuh tempo tanpa mengganggu operasinya. Manajemen likuiditas yang baik adalah kunci untuk mengelola risiko ini.


5. Risiko Reputasi : 

Risiko ini berkaitan dengan citra bank di mata nasabah dan masyarakat. Skandal atau perilaku yang tidak etis dapat merusak reputasi bank.


6. Risiko Hukum dan Kepatuhan : 

Bank harus mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Pelanggaran hukum atau aturan dapat mengakibatkan sanksi dan denda.


7. Risiko Strategik :

Mengacu pada risiko yang timbul dari keputusan strategis yang diambil oleh manajemen bank, serta dampaknya terhadap pencapaian tujuan jangka panjang bank.



Proses Manajemen Risiko


Manajemen Risiko dalam bisnis perbankan melibatkan beberapa langkah penting,  yakni :


1. Identifikasi Risiko : 

Bank harus mengidentifikasi semua potensi risiko yang mungkin mereka hadapi, termasuk risiko internal dan eksternal.


2. Evaluasi Risiko : 

Bank perlu mengukur besarnya risiko, baik dalam hal nilai maupun dampaknya.


3. Pengendalian Risiko : 

Setelah risiko diidentifikasi dan dievaluasi, bank perlu mengembangkan strategi untuk mengendalikan risiko-risiko tersebut.


4. Pemantauan dan Pelaporan Risiko : 

Bank harus terus memantau risiko-risiko yang ada dan melaporkannya kepada pihak yang berkepentingan, termasuk regulator.



Peran Regulator.


Regulator keuangan memiliki peran yang signifikan dalam Manajemen Risiko dalam bisnis perbankan. Mereka menetapkan pedoman, persyaratan, dan regulasi yang harus diikuti oleh bank. Regulator juga melakukan pengawasan dan audit untuk memastikan bank mematuhi peraturan. Ini membantu menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.



Kesimpulan.


Manajemen Risiko dalam bisnis perbankan adalah suatu keharusan untuk melindungi kepentingan bank, pelanggan, dan stabilitas sistem keuangan. Dengan pemahaman yang mendalam tentang berbagai jenis risiko, bank dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi potensi kerugian. Proses Manajemen Risiko yang efektif melibatkan identifikasi, evaluasi, pengendalian, pemantauan, dan pelaporan risiko. 


Dalam iklim yang penuh dengan ketidakpastian, Manajemen Risiko adalah kunci untuk menjaga kesehatan keuangan bank dan menjaga kepercayaan pelanggan serta stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.



Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 22 Oktober 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

11 | SERI LEADERSHIP (Kepemimpinan Inovatif : Kunci Sukses Bisnis Keuangan Mikro Pada BPR)

Pendahuluan.


Salah satu sektor yang paling vital dalam ekonomi Indonesia adalah sektor industri Keuangan Mikro (Microfinance), terutama pada Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Dalam perjalanan waktu yang cukup panjang, BPR merupakan lembaga keuangan yang yang sudah teruji memiliki perhatian yang besar pada perekonomian masyarakat kecil. 


BPR telah secara konsisten mendukung dan melayani kebutuhan dana serta tambahan modal usaha bagi masyarakat pedesaan dan kaum marginal di perkotaan, utamanya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). 


Agar dapat bersaing dan memberikan manfaat maksimal bagi nasabahnya, maka kepemimpinan inovatif pada BPR adalah salah satu faktor yang sangat penting. Artikel ini akan menjelaskan pentingnya kepemimpinan inovatif dalam bisnis keuangan mikro di BPR dan bagaimana hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan dan keberlanjutan sektor ini.


Kepemimpinan Inovatif dalam Bisnis Keuangan Mikro di BPR.


1. Perubahan Paradigma.


Dalam era digital dan globalisasi, paradigma bisnis keuangan mikro di BPR mengalami perubahan signifikan. Pemimpin BPR harus mampu beradaptasi dengan perubahan ini dan berpikir lebih maju. Kepemimpinan inovatif membantu mereka untuk tetap relevan dalam lingkungan yang berubah dengan cepat ini.


2. Pengembangan Produk dan Layanan.


Kepemimpinan inovatif melibatkan pengembangan produk dan layanan yang relevan dan kompetitif. Ini mencakup peningkatan layanan perbankan, seperti pemanfaatan teknologi digital untuk memudahkan akses nasabah ke layanan perbankan. Produk dan layanan yang inovatif dapat membantu BPR menarik lebih banyak nasabah dan meningkatkan pendapatan mereka.


3. Teknologi dan Otomatisasi.


Dalam dunia keuangan mikro, teknologi adalah kunci untuk mempermudah proses bisnis dan memberikan pelayanan yang lebih efisien. Kepemimpinan inovatif dalam BPR menghadirkan teknologi baru yang dapat membantu otomatisasi proses seperti penilaian kredit, pengelolaan risiko, dan pengelolaan dana nasabah.


4. Kolaborasi dan Kemitraan.


Kepemimpinan inovatif juga mengandalkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, lembaga nirlaba, dan perusahaan lain. Ini dapat menciptakan peluang kemitraan yang memungkinkan BPR untuk memperluas jangkauan mereka dan meningkatkan dampak sosial mereka.


5. Kreativitas dalam Penyelesaian Masalah.


Pemimpin BPR harus mampu berpikir kreatif dalam mengatasi masalah yang muncul. Kepemimpinan inovatif memungkinkan mereka untuk mencari solusi yang tidak konvensional dan efektif, terutama dalam mengatasi masalah seperti risiko kredit, pengembangan produk, dan manajemen operasional.


6. Pengembangan Sumber Daya Manusia.


Kepemimpinan inovatif juga mencakup pengembangan sumber daya manusia. Pemimpin BPR harus mendorong kreativitas dan inovasi dalam tim mereka. Mereka perlu melibatkan karyawan dalam proses pengambilan keputusan dan memberikan pelatihan yang relevan agar tim dapat mengikuti perkembangan industri ini.



Keberhasilan Bisnis Keuangan Mikro di BPR.


Kepemimpinan inovatif adalah kunci keberhasilan bisnis keuangan mikro di BPR. Dengan mengadopsi strategi dan pendekatan inovatif, BPR akan mampu :


1. Meningkatkan daya saing : BPR yang inovatif dapat bersaing lebih baik dalam pasar yang semakin ketat.


2. Memperluas pangsa pasar : Dengan produk dan layanan inovatif, BPR dapat menarik lebih banyak nasabah dan memperluas jangkauan mereka.


3. Mengurangi risiko : Inovasi juga dapat membantu BPR mengelola risiko dengan lebih baik, terutama dalam pengelolaan kredit.


4. Meningkatkan keberlanjutan : Dengan adaptasi terhadap perubahan dan kemampuan untuk terus berkembang, BPR dapat meningkatkan keberlanjutan bisnis mereka.



Kesimpulan.


Kepemimpinan inovatif sangat penting dalam bisnis keuangan mikro di BPR. Pemimpin yang inovatif akan dapat menghadapi setiap tantangan yang muncul dan mengidentifikasi peluang untuk pertumbuhan dan keberlanjutan usaha BPR. 


Dengan pengembangan produk dan layanan yang inovatif, pemanfaatan teknologi, kolaborasi, kreativitas dalam penyelesaian masalah, dan pengembangan Sumber Daya Manusia, BPR dapat mencapai kesuksesan dalam era bisnis yang terus berubah ini. 


Dalam sebuah lingkungan bisnis yang berubah cepat, kepemimpinan inovatif adalah kunci untuk menjadikan BPR sebagai pionir dalam industri keuangan mikro di Indonesia.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 18 Oktober 2023.


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

10 | SERI MANAJEMEN KREDIT (Prospek Kredit Sindikasi di BPR : Kolaborasi Yang Menguntungkan)

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah entitas keuangan yang berperan penting dalam mendukung perekonomian lokal dan melayani kebutuhan keuangan masyarakat di daerah terpencil. Salah satu instrumen yang dapat membantu BPR dalam memperluas layanannya adalah Kredit Sindikasi. 


Kredit Sindikasi adalah bentuk pembiayaan yang melibatkan sejumlah pemberi pinjaman dalam satu kesepakatan kredit untuk membiayai proyek atau kebutuhan modal suatu perusahaan atau peminjam. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi potensi dan prospek Kredit Sindikasi di BPR.



Kredit Sindikasi : Konsep Dasar


Kredit Sindikasi adalah kolaborasi antara beberapa lembaga keuangan untuk menyediakan pembiayaan kepada peminjam yang memerlukan dana besar. Dalam hal ini, BPR dapat menjadi salah satu anggota sindikat yang berpartisipasi dalam memberikan kredit. 


Proyek besar seperti pembangunan infrastruktur, ekspansi bisnis, atau pendanaan proyek khusus seringkali memerlukan sumber daya finansial yang melampaui kemampuan satu lembaga keuangan.



Prospek Kredit Sindikasi di BPR


1. Diversifikasi Portofolio Kredit

Dengan berpartisipasi dalam kredit sindikasi, BPR dapat mendiversifikasi portofolio kreditnya. Ini dapat membantu mengurangi risiko kredit karena eksposur terhadap satu peminjam atau sektor tertentu.


2. Akses ke Proyek Besar

Kredit sindikasi memungkinkan BPR untuk terlibat dalam proyek besar yang mungkin sulit dilayani secara mandiri. Hal ini dapat membuka peluang baru untuk mendukung perkembangan ekonomi lokal dan berkontribusi pada pertumbuhan bisnis BPR.


3. Peningkatan Likuiditas

Bergabung dalam sindikat kredit bisa memberikan BPR akses kepada sumber daya finansial tambahan. Ini membantu meningkatkan likuiditas yang bisa digunakan untuk membiayai pinjaman lain atau mendukung kebutuhan operasional.


4. Kolaborasi dengan Mitra Strategis

Kredit sindikasi memungkinkan BPR untuk berkolaborasi dengan lembaga keuangan lain, termasuk bank besar atau institusi keuangan non-bank yang memiliki keahlian dan sumber daya yang berbeda. Hal ini dapat membuka pintu bagi mitra strategis yang kuat yang mendukung pertumbuhan BPR.


5. Mengurangi Risiko Tunggal

Dalam kredit sindikasi, risiko kredit dibagi antara anggota sindikat. Ini mengurangi eksposur BPR terhadap risiko tunggal yang mungkin terkait dengan peminjam atau proyek tertentu.


6. Peningkatan Hubungan dengan Pelanggan

Dengan kemampuan untuk mendukung proyek besar, BPR dapat memperkuat hubungan dengan pelanggan korporat yang memiliki kebutuhan modal besar. Ini bisa berujung pada pertumbuhan portofolio kredit yang lebih besar.



Tantangan dalam Kredit Sindikasi


Tentu saja, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi ketika BPR memutuskan untuk berpartisipasi dalam kredit sindikasi, antara lain : koordinasi dengan anggota sindikat, pengembangan perjanjian yang jelas, dan manajemen risiko yang tepat, adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan baik.



Kesimpulan


Kredit Sindikasi dapat menjadi peluang yang menarik bagi BPR untuk memperluas bisnisnya, meningkatkan portofolio kredit, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, langkah ini juga memerlukan manajemen risiko yang hati-hati dan pemahaman yang baik tentang peran BPR dalam sindikat kredit. 


Dengan strategi yang tepat, Kredit Sindikasi dapat menjadi instrumen yang memberikan manfaat besar bagi BPR dan komunitas yang dilayani.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 17 Oktober 2023.


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

09 | SERI MANAJEMEN SDM (Mengelola Konflik dan Meningkatkan Kolaborasi Tim)

Dalam mendukung perekonomian masyarakat di tingkat lokal, Bank Perekonomian Rakyat (BPR) memiliki peran yang sangat vital. 


Untuk mencapai tujuan tersebut, fungsi dan peran Sumber Daya Manusia (SDM) bagi kemajuan BPR sangatlah penting. Dalam konteks sinergisitas tim SDM BPR, mengelola konflik dan meningkatkan kolaborasi merupakan 2 (dua) aspek kunci yang perlu diperhatikan. 


Konflik dapat menghambat produktivitas dan keharmonisan tim, sementara kolaborasi yang baik dapat memacu inovasi dan kinerja tim.

 

Dalam artikel ini, Kita akan membahas strategi untuk mengelola konflik dan mendorong kolaborasi yang lebih baik di tim SDM BPR.



MENGELOLA KONFLIK


1. Komunikasi yang Efektif


Salah satu penyebab utama konflik di tim SDM BPR adalah kurangnya komunikasi yang efektif. Tim harus belajar untuk terbuka dan jujur dalam berbicara tentang masalah dan perbedaan pendapat. Membangun budaya komunikasi yang kuat memungkinkan anggota tim untuk saling memahami dan mengatasi konflik dengan lebih baik.


2. Pemahaman Terhadap Perbedaan


Setiap anggota tim memiliki latar belakang, pengalaman, dan pandangan yang berbeda. Penting untuk memahami perbedaan ini sebagai sumber kekayaan, bukan sebagai penyebab konflik. Pelatihan atau workshop tentang diversitas dan inklusi dapat membantu anggota tim memahami dan menghargai perbedaan satu sama lain.


3. Mediasi yang Bijak


Ketika konflik muncul, penting untuk memiliki mekanisme mediasi yang bijak. Seorang pemimpin atau anggota tim yang terlatih dapat membantu dalam mengatasi konflik dengan cara yang konstruktif. Mediator harus netral dan berfokus pada solusi daripada menyalahkan pihak tertentu.



MENINGKATKAN KOLABORASI


1. Membangun Tujuan Bersama


Agar tim SDM BPR dapat berkolaborasi secara efektif, penting untuk memiliki visi dan tujuan bersama. Semua anggota tim harus memahami bagaimana peran mereka berkontribusi pada pencapaian tujuan tersebut. Ini membantu dalam menghilangkan persaingan internal yang tidak sehat.


2. Pengakuan dan Penghargaan


Mengakui kontribusi individu dan menghargai pencapaian tim sangat penting dalam mendorong kolaborasi. Karyawan yang merasa dihargai cenderung lebih termotivasi untuk berkolaborasi dan memberikan yang terbaik.


3. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab yang Jelas


Dalam tim SDM BPR, setiap anggota harus memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas. Ini menghindari tumpang tindih dalam pekerjaan dan membantu mencegah konflik yang tidak perlu. Pembagian tugas harus disesuaikan dengan kekuatan dan keahlian masing-masing anggota.


4. Mendorong Kreativitas dan Inovasi


Kolaborasi yang baik seringkali menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif. Tim SDM BPR harus mendorong diskusi terbuka dan berfokus pada solusi yang lebih baik. Inisiatif untuk menguji ide-ide baru dan berinovasi harus didukung.


Dalam dunia perbankan yang berubah cepat, tim SDM BPR yang mampu mengelola konflik dengan bijak dan meningkatkan kolaborasi akan memiliki keunggulan kompetitif. Membangun budaya kerja yang mendukung komunikasi terbuka, pengakuan, dan kerja sama tim adalah langkah penting dalam mencapai tujuan strategis BPR. 


Dengan strategi yang tepat, tim SDM BPR dapat berfungsi sebagai tulang punggung dalam mencapai kesuksesan dalam memberikan layanan terbaik kepada masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.



Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 12 Oktober 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

08 | SERI MANAJEMEN SDM (Peran SDM Dalam Transformasi Digital BPR)

Saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berlangsung sangat pesat. Hal ini tentu telah mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia perbankan. Perbankan Perekonomian Rakyat (BPR) bukanlah suatu pengecualian. 


Transformasi digital telah menjadi salah satu tren yang mendominasi industri perbankan perkreditan rakyat, dan Sumber Daya Manusia (SDM) memainkan peran kunci dalam kesuksesan perubahan ini. Dalam artikel ini, Kita akan mengeksplorasi peran penting yang bisa dimainkan oleh SDM dalam transformasi digital pada BPR. 


Adapun peranan yang bisa dilakukan, antara lain :


1. Peningkatan Keahlian dan Keterampilan.


Transformasi digital mengharuskan BPR untuk menghadapi perubahan dalam proses bisnis, teknologi, dan cara berinteraksi dengan pelanggan. SDM BPR harus mampu memahami dan menguasai teknologi baru, serta memiliki keterampilan yang relevan untuk mendukung perubahan ini. 


Ini melibatkan pelatihan dan pengembangan karyawan agar mereka memiliki pengetahuan tentang tren teknologi terbaru, keamanan siber, analisis data, dan sebagainya. Peningkatan keahlian dan keterampilan SDM adalah langkah krusial dalam mempersiapkan BPR untuk era digital.


2. Pengembangan Kepemimpinan dan Kebijakan.


SDM BPR yang kuat, tidak hanya memiliki keahlian teknis saja, tetapi juga memainkan peran kunci dalam merancang strategi perubahan dan kebijakan yang mendukung transformasi digital. 


Ini melibatkan pengembangan kepemimpinan yang dapat mengarahkan organisasi menuju perubahan yang dibutuhkan dan mengelola risiko yang terkait dengan perubahan ini. Kepemimpinan yang efektif harus mampu memotivasi karyawan, mengidentifikasi peluang baru, dan mengelola perubahan dengan baik.



3. Peningkatan Pengalaman Pelanggan.


Salah satu tujuan utama dari transformasi digital BPR adalah meningkatkan pengalaman pelanggan. SDM perbankan perkreditan rakyat harus mampu merancang dan mengimplementasikan solusi digital yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih baik. 


Ini termasuk pengembangan aplikasi perbankan mobile, portal internet yang user-friendly, dan layanan pelanggan yang responsif. SDM harus bekerja sama dengan tim teknologi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengalaman pelanggan yang unggul.



4. Keamanan Siber.


Seiring dengan manfaat transformasi digital, ada juga tantangan baru yang muncul, terutama dalam hal keamanan siber. SDM BPR harus memahami risiko keamanan yang terkait dengan perubahan digital dan mengembangkan strategi untuk melindungi data pelanggan dan keuangan. 


Mereka juga harus terus memantau ancaman siber yang berkembang dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko.


5. Budaya Organisasi yang Terbuka terhadap Perubahan.


Transformasi digital tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan budaya dalam organisasi. SDM berperan dalam membentuk budaya yang terbuka terhadap perubahan, di mana karyawan merasa nyaman untuk mengadopsi teknologi baru dan berkolaborasi dalam meningkatkan proses bisnis.


Pemimpin dan SDM perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan di mana inovasi didorong dan perubahan dianggap sebagai peluang, bukan sebagai ancaman.



6. Pengukuran Kinerja dan Evaluasi


SDM dalam BPR juga bertanggung jawab atas pengukuran kinerja transformasi digital. Mereka harus mengembangkan metrik atau ukuran yang sesuai untuk mengukur keberhasilan perubahan, baik dari segi keuangan maupun pengalaman pelanggan. Evaluasi yang berkelanjutan ini memungkinkan perbaikan berkelanjutan dalam strategi transformasi digital.


Dalam era transformasi digital, SDM berperan kunci dalam membantu BPR beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat. Peningkatan keahlian dan keterampilan, pengembangan kepemimpinan dan kebijakan yang mendukung, peningkatan pengalaman pelanggan, keamanan siber yang kuat, budaya organisasi yang terbuka terhadap perubahan, dan pengukuran kinerja yang efektif adalah elemen-elemen penting yang harus diintegrasikan dalam strategi transformasi digital. 


Dengan demikian, BPR dapat mengambil langkah besar dalam menghadapi tantangan digital yang ada dan menciptakan masa depan yang lebih cerah dalam dunia perbankan perkreditan rakyat.



Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 12 Oktober 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

07 | SERI MANAJEMEN PEMASARAN (Penggunaan Media Sosial Untuk Meningkatkan Pemasaran BPR)

Di era digital yang terus berkembang seperti saat ini, Media Sosial (Medsos) telah menjadi alat yang sangat efektif dalam pemasaran. Tidak hanya digunakan oleh bisnis besar, tetapi juga oleh bisnis kecil dan menengah seperti Bank Perekonomian Rakyat (BPR). 


BPR, yang seringkali berfokus pada masyarakat lokal, dapat memanfaatkan media sosial untuk mencapai dan berinteraksi dengan calon nasabah potensial di tingkat yang lebih personal. Dalam artikel ini, Penulis akan membahas  mengapa dan bagaimana BPR dapat menggunakan media sosial untuk meningkatkan pemasaran mereka.


Mengapa Media Sosial Penting untuk BPR?


1. Menciptakan Kesadaran Merek : 

Media sosial adalah platform yang ideal untuk membangun dan memperkuat kesadaran merek BPR. Dengan posting yang konsisten dan konten yang relevan, BPR dapat membuat diri mereka lebih dikenal di komunitas lokal mereka.


2. Menjangkau Publik yang Lebih Luas : 

Media sosial memungkinkan BPR untuk menjangkau nasabah potensial yang berada di luar daerah fisik mereka. Hal ini membuka peluang untuk menarik nasabah dari daerah yang lebih jauh.


3. Interaksi dengan Nasabah : 

Media sosial memungkinkan BPR untuk berinteraksi secara langsung dengan nasabah. Hal ini memungkinkan untuk menjawab pertanyaan, mengatasi masalah, dan memberikan dukungan pelanggan yang lebih efektif.


4. Pengukuran Kinerja :

Platform media sosial menyediakan alat analitik yang kuat. BPR dapat melacak kinerja posting, mengukur keterlibatan nasabah, dan memahami apa yang bekerja dan apa yang tidak dalam pemasaran mereka.


Bagaimana cara yang efektif Menggunakan Media Sosial untuk Pemasaran BPR?


1. Tentukan Tujuan dan Strategi : 

Mulailah dengan menentukan tujuan pemasaran Anda. Apakah Anda ingin meningkatkan kesadaran merek, menarik nasabah baru, atau mempromosikan produk tertentu? Setelah itu, kembangkan strategi yang sesuai dengan tujuan Anda.


2. Pilih Platform yang Tepat : 

Tidak semua platform media sosial cocok untuk semua jenis bisnis. Pertimbangkan karakteristik audiens Anda dan jenis konten yang ingin Anda bagikan. Facebook, Instagram, dan LinkedIn mungkin menjadi platform yang relevan untuk BPR.


3. Buat Konten yang Relevan : 

Konten adalah kunci dalam media sosial. Buat posting yang informatif, bermanfaat, dan relevan bagi nasabah Anda. Ini bisa berupa informasi tentang produk, tips keuangan, atau berita lokal.


4. Konsistensi Posting : 

Jadwal posting yang konsisten adalah penting. Ini membantu Anda mempertahankan keterlibatan dengan pengikut Anda dan membangun audiens yang lebih besar.


5. Berinteraksi dengan Pengikut : 

Tanggapi komentar, pesan, dan pertanyaan dari pengikut Anda. Ini menunjukkan bahwa Anda peduli dengan nasabah Anda dan membantu membangun hubungan yang kuat.


6. Gunakan Iklan Berbayar : 

Selain memposting materi iklan dan informasi ke Medsos, pertimbangkan untuk menggunakan iklan berbayar di media sosial. Ini dapat membantu Anda mencapai audiens yang lebih besar dan lebih tersegmentasi.


7. Analisis dan Evaluasi : 

Gunakan alat analitik yang disediakan oleh platform media sosial untuk melacak kinerja Anda. Pelajari apa yang berfungsi dan perbaiki strategi Anda berdasarkan hasil tersebut.


8. Edukasi dan Informasi : 

Selain mempromosikan produk Anda, gunakan media sosial untuk memberikan edukasi keuangan kepada nasabah Anda. Ini membantu membangun otoritas Anda sebagai sumber informasi yang tepercaya.


Dengan menggabungkan media sosial ke dalam strategi pemasaran Anda, BPR dapat memperluas cakupan mereka, membangun merek yang kuat, dan mempertahankan hubungan yang bermakna dengan nasabah. 


Media sosial adalah alat yang efektif untuk membantu BPR tetap relevan dalam dunia perbankan yang terus berubah dan kompetitif. Dengan upaya yang tepat, media sosial dapat menjadi aset berharga dalam mencapai tujuan pemasaran BPR.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 11 Oktober 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

06 | SERI MANAJEMEN PEMASARAN (Mengapa Pemasaran Penting Bagi Pekembangan BPR?)

Bank Perekonomian Rakyat (BPR) merupakan lembaga keuangan yang memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal. Mereka seringkali menjadi tulang punggung ekonomi di daerah-daerah pedesaan dan wilayah perkotaan yang kecil. 


Untuk menghadapi berbagai tantangan dan persaingan dalam lingkungan keuangan yang semakin kompleks, BPR perlu memahami pentingnya Pemasaran dalam strategi bisnis mereka. 


Dalam artikel ini, Penulis akan membahas tentang Pemasaran merupakan elemen kunci bagi kesuksesn BPR, yaitu :


1. Meningkatkan Kesadaran Merek

Penting bagi BPR untuk membangun kesadaran merek yang kuat di komunitas lokal mereka. Merek yang dikenal dan diandalkan akan membuat BPR menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang mencari layanan perbankan. Pemasaran yang efektif dapat membantu membangun citra positif BPR dan membuatnya lebih mudah dikenal oleh calon nasabah.


2. Menarik Nasabah Baru

Dalam dunia perbankan yang kompetitif, menarik nasabah baru adalah tantangan yang nyata. Pemasaran yang baik dapat membantu BPR mencapai target pasar mereka dan menarik nasabah baru. Dengan strategi Pemasaran yang tepat, BPR dapat menonjolkan keunggulan mereka, seperti pelayanan yang lebih personal dan mendalam dalam komunitas lokal.


3. Meningkatkan Diversifikasi Pendapatan

Pemasaran yang efektif juga dapat membantu BPR untuk memperkenalkan berbagai produk dan layanan keuangan yang mereka tawarkan. Ini termasuk produk simpanan, kredit, investasi, dan layanan perbankan digital. Dengan memperkenalkan beragam produk, BPR dapat meningkatkan pendapatan mereka dan menciptakan peluang baru.


4. Membangun Hubungan dengan Nasabah

Pemasaran bukan hanya tentang mendapatkan nasabah, tetapi juga tentang mempertahankan mereka. Strategi Pemasaran yang baik melibatkan komunikasi yang terus-menerus dengan nasabah, mendengarkan umpan balik mereka, dan menyediakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini membantu membangun hubungan jangka panjang yang kuat dengan nasabah.


5. Mengadopsi Teknologi Terkini

Pemasaran juga terkait erat dengan teknologi. BPR perlu mengadopsi inovasi dalam Pemasaran, seperti Pemasaran berbasis online, media sosial, dan analisis data untuk mengikuti tren industri dan mencapai nasabah yang lebih luas. Teknologi juga dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi Pemasaran dan mengukur hasilnya.


6. Mendorong Keberlanjutan Ekonomi Lokal

Sebagai institusi keuangan lokal, BPR memiliki tanggung jawab untuk mendukung dan berkontribusi pada komunitas lokal mereka. Pemasaran yang tepat dapat membantu BPR mempromosikan keberlanjutan ekonomi lokal, mengikuti program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dan berpartisipasi dalam inisiatif lokal.


7. Mengikuti Perubahan Aturan

Pemasaran juga penting dalam menghadapi perubahan aturan-aturan di industri keuangan. BPR perlu mengikuti perkembangan POJK-POJK terbaru dan memastikan bahwa Pemasaran mereka selalu sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Ini akan membantu mencegah masalah hukum dan mempertahankan kepercayaan nasabah.


Kesimpulannya, Pemasaran adalah komponen kunci dalam kesuksesan Bank Perkreditan Rakyat. Untuk tetap relevan, bersaing, dan berkembang, BPR perlu memiliki strategi Pemasaran yang baik yang mencakup pengembangan merek yang kuat, penarikan nasabah baru, diversifikasi produk, dan hubungan pelanggan yang baik. 


Dengan memahami pentingnya Pemasaran, BPR dapat terus berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat.


Jika Anda adalah pemilik atau pemimpin BPR, pertimbangkan untuk menginvestasikan waktu dan sumber daya dalam pengembangan strategi Pemasaran yang efektif untuk memastikan kelangsungan dan pertumbuhan bisnis Anda.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

Bogor, 8 Oktober 2023.



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

05 | SERI LEADERSHIP (Memotivasi Karyawan Yang Merasa Karirnya Mentok)

Sebagai seorang Pemimpin pada BPR, baik itu  Kepala Seksi, Kepala Kantor Kas, Kepala Bagian Kredit, Kepala Bagian Operasional, Kepala Departemen, Direksi, dll. – tentu memiliki harapan agar unit kerjanya memiliki prestasi yang baik dengan dukungan karyawan yang profesional, berintegritas tinggi, dan  bermotivasi tinggi.


Hanya saja, sesekali mungkin kita pernah menemukan bahwa tidak semua karyawan memiliki performa yang ideal seperti tersebut di atas. Kita bahkan pernah atau sering mendapati subordinat kita bekerja ala kadarnya saja, tanpa motivasi kerja yang kuat.


Alasannya tentu bermacam-macam, tetapi yang paling sering ditemui adalah karir yang mentok / mandeg. Logikanya sederhana, jika seorang memiliki karir yang baik dan menanjak naik, tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan atau income mereka. 


Apalagi, kalau seorang karyawan senior karirnya kalah moncer dibandingkan karyawan yang lebih junior. Tentu akan menimbulkan demotivasi bagi sang senior.


Kalau kondisi ini berlarut-larut terus, tentu akan menjadi tidak sehat. Karena bisa memberikan pengaruh yang buruk bagi karyawan-karyawan lainnya. Hal ini otomatis juga akan membuat kinerja unit yang Kita pimpin menjadi buruk juga. Sudah pasti target-target yang sudah ditetapkan dalam RBB (Rencana Bisnis Bank) akan terkena dampaknya….alias gagal!


Nah, sebagai seorang Pemimpin  tentu Kita tidak boleh tinggal diam dengan kondisi seperti ini. Yang pasti, kita harus bisa memberikan motivasi terus menerus kepada mereka, sehingga gairah kerja bisa tumbuh dan bangkit Kembali. 


Berikut ini beberapa cara yang bisa Kita lakukan untuk memberikan motivasi kepada para karyawan,yaitu :


1. Komunikasi Terbuka:

Berbicaralah dengan karyawan tersebut secara pribadi untuk mendengarkan masalah dan kekhawatirannya.

Ajak mereka berbicara tentang tujuan dan aspirasi karir mereka. Apa yang ingin mereka capai dalam perusahaan?


2. Berikan Umpan Balik Konstruktif:

Berikan umpan balik yang jelas tentang kinerja mereka, termasuk kelebihan dan kekurangan.

Bantu mereka merencanakan langkah-langkah perbaikan yang konkret.


3. Perencanaan Karir:

Bantu karyawan dalam merencanakan karir mereka dengan menetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Diskusikan peluang karir di dalam perusahaan dan bagaimana mereka dapat mencapai posisi yang lebih tinggi.


4. Pengembangan Keterampilan:

Tawarkan pelatihan dan pengembangan keterampilan agar karyawan dapat meningkatkan kompetensi mereka.

Ini bisa meliputi pelatihan internal atau eksternal, kursus online, atau mentorship.


5. Penugasan Proyek Menantang:

Berikan tugas atau proyek yang menantang kepada karyawan yang bisa meningkatkan keterampilan mereka dan memberikan kesempatan untuk berkembang.

Pastikan mereka memiliki dukungan dan sumber daya yang diperlukan.


6. Pengakuan dan Apresiasi:

Akui dan apresiasi kontribusi karyawan yang bersangkutan.

Berikan penghargaan atau pujian secara teratur untuk memotivasi mereka.


7. Keseimbangan Kerja-Hidup:

Pastikan karyawan memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Berikan fleksibilitas jika memungkinkan, seperti bekerja dari rumah atau jadwal kerja yang lebih fleksibel.


8. Mentoring:

Pertimbangkan untuk menghubungkan karyawan dengan seorang mentor yang dapat memberikan panduan dan saran dalam mengembangkan karir mereka.


9. Program Insentif:

Pertimbangkan untuk menerapkan program insentif yang dapat memberikan motivasi tambahan, seperti bonus kinerja atau insentif berbasis pencapaian.


10. Evaluasi Rutin:

Lakukan evaluasi rutin dengan karyawan tersebut untuk melihat perkembangan mereka dan meninjau rencana karir.


Setiap karyawan memiliki kebutuhan dan motivasi yang berbeda, jadi penting bagi mereka untuk beradaptasi dengan pendekatan yang sesuai dengan situasi dan kepribadian masing-masing. 


Dengan memberikan dukungan dan peluang yang tepat, Kita dapat membantu karyawan yang merasa karirnya mentok untuk mengatasi hambatan tersebut dan mencapai potensi mereka yang sebenarnya.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

04 | SERI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (Job Description Account Officer)

Account Officer (AO) atau sering disebut dengan Credit Officer (CO) pada Bank Perekonomian Rakyat (BPR) atau Lembaga Keuangan Mikro (LKM) memegang kunci yang yang sangat strategis, karena dari sanalah akan muncul bisnis inti BPR dan LKM. 


Para AO atau CO harus mampu membuat para prospek menjadi debitur / nasabah pada BPR dan LKM, kemudian menjaga hubungan baik dengan nasabah-nasabah tersebut. Dengan hubungan yang baik dan layanan yang prima, maka mereka secara otomatis akan menjadi para nasabah yang loyal kepada BPR /  LKM.


Untuk mengetahui peran AO dan CO tersebut pada BPR dan LKM, kali ini penulis menyajikan uraian tugas atau job description yang menggambarkan pekerjaan mereka sehari-hari.


Job description AO atau CO BPR dan LKM dapat bervariasi tergantung pada kebijakan dan ukuran BPR tersebut. Namun, berikut adalah beberapa tugas umum yang biasanya terkait dengan peran tersebut, yakni :


1. Penjualan Produk Kredit : 

Mempromosikan produk kredit yang ditawarkan oleh BPR kepada calon nasabah potensial. Ini bisa termasuk pinjaman pribadi, pinjaman usaha kecil, kredit mikro, atau produk kredit lainnya.


2. Identifikasi Peluang :

Menganalisis pasar dan calon nasabah untuk mengidentifikasi peluang-peluang kredit yang potensial. Ini melibatkan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan nasabah dan kemampuan mereka untuk membayar kembali pinjaman.


3. Pemrosesan Aplikasi :

Membantu nasabah dalam mengisi aplikasi kredit, mengumpulkan dokumen-dokumen yang diperlukan, dan memastikan semua persyaratan telah terpenuhi.


4. Evaluasi Kredit :

Melakukan evaluasi kredit awal untuk menentukan kelayakan nasabah dalam mendapatkan pinjaman. Ini melibatkan penilaian terhadap risiko kredit, kemampuan pembayaran, dan sejarah kredit nasabah.


5. Pemberian Rekomendasi :

Berdasarkan hasil evaluasi kredit, memberikan rekomendasi kepada manajemen BPR apakah suatu aplikasi harus disetujui, ditolak, atau memerlukan persyaratan tambahan.


6. Pelayanan Nasabah :

 Memberikan pelayanan yang baik kepada nasabah yang ada dan berpotensi, menjawab pertanyaan mereka, dan memberikan informasi yang diperlukan tentang produk dan proses kredit.


7. Penagihan :

Memantau pembayaran pinjaman yang ada, menghubungi nasabah yang terlambat, dan mengambil tindakan penagihan jika diperlukan.


8. Membangun Hubungan : 

Membangun hubungan baik dengan nasabah, menjaga komunikasi yang berkelanjutan, dan memastikan kepuasan nasabah.


9. Pemantauan Portofolio : 

Melakukan pemantauan terhadap portofolio kredit yang ada untuk memastikan bahwa nasabah tetap memenuhi kewajibannya.


10. Pematuhan Regulasi : 

Memastikan bahwa semua proses dan keputusan kredit mematuhi peraturan dan kebijakan BPR serta peraturan yang berlaku.


11. Pelaporan :

Menyiapkan laporan berkala tentang hasil penjualan kredit, performa portofolio, dan statistik lainnya kepada manajemen.


12. Peningkatan Pengetahuan : 

Terus memperbarui pengetahuan tentang produk dan layanan kredit, serta perubahan dalam peraturan perbankan.

Perlu diingat bahwa peran Account Officer atau Credit Officer pada BPR dan LKM sangat bergantung pada dinamika bisnis dan kebijakan internal BPR dan LKM tertentu, sehingga rincian tugas dan tanggung jawab dapat bervariasi dari satu institusi dengan institusi lainnya.

Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

03 | SERI MANAJEMEN DANA (Tips Menghimpun Dana Simpanan Bagi BPR dan LKM)

Dana simpanan dalam bentuk Tabungan dan Deposito, merupakan hal yang sangat penting bagi Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). 


Karena, dana simpanan bisa diibaratkan seperti darah  yang berfungsi menyalurkan oksigen,  sari-sari makanan atau nutrisi (berupa asam amino, asam lemak, dan glukosa) yang sangat berguna bagi sel-sel tubuh agar Kita bisa bertahan hidup. 


Namun demikian, tidaklah mudah dalam menghimpun dana simpanan dari masyarakat. Dibutuhkan kerja keras, serta tim yang gigih dan bersemangat untuk membangun reputasi yang baik bagi BPR dan LKM, sehingga masyarakat mau menyimpan / menitipkan dananya pada institusi Kita. 


Berikut ini penulis sampaikan beberapa tips yang dapat membantu BPR dan LKM agar mampu menghimpun dana masyarakat secara tepat, profesional, dan aman sesuai dengan regulasi perbankan yang berlaku:


1. Kepatuhan Regulasi :

Pastikan bahwa BPR atau LKM Anda mematuhi semua regulasi perbankan dan peraturan yang berlaku. Ini termasuk perizinan yang diperlukan, peraturan tentang penjaminan deposito, dan persyaratan keamanan data nasabah-nasabah.


2. Transparansi : 

Berikan informasi yang jelas dan mudah dimengerti kepada nasabah-nasabah potensial tentang produk dan layanan yang Anda tawarkan, termasuk tingkat bunga, biaya, dan ketentuan lainnya.


3. Edukasi Keuangan : Sediakan program edukasi keuangan kepada nasabah-nasabah Anda. Bantu mereka memahami pentingnya menabung, investasi, dan manajemen keuangan yang baik.


4. Layanan Pelanggan :

Tingkatkan layanan pelanggan Anda. Pastikan bahwa nasabah-nasabah dapat dengan mudah menghubungi Anda, dan tanggapi pertanyaan dan keluhan dengan cepat dan profesional.


5. Keamanan Data :

Lindungi data pribadi dan keuangan nasabah-nasabah dengan baik. Terapkan langkah-langkah keamanan yang kuat untuk menghindari insiden pelanggaran data.


6. Pengembangan Produk : 

Pertimbangkan untuk mengembangkan produk tabungan yang menarik, seperti tabungan dengan tingkat bunga kompetitif atau fitur-fitur tambahan seperti layanan perbankan online.


7. Pemasaran yang Tepat :  Gunakan strategi pemasaran yang tepat untuk menjangkau masyarakat yang Anda targetkan. Ini dapat mencakup promosi melalui media sosial, kolaborasi dengan mitra lokal, atau kampanye iklan yang efektif.


8. Kepemimpinan yang Profesional : 

Miliki tim manajemen yang berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang industri perbankan dan keuangan. Pastikan mereka memahami dan mematuhi etika bisnis yang tinggi.


9. Manajemen Risiko :

Bangun kerangka kerja manajemen risiko yang kuat. Identifikasi, evaluasi, dan mitigasi risiko yang mungkin dihadapi oleh BPR atau LKM Anda.


10. Pengembangan Hubungan : 

Jalin hubungan baik dengan regulator, otoritas keuangan setempat, dan organisasi terkait lainnya. Ini dapat membantu Anda memahami perubahan regulasi yang terbaru dan memastikan kepatuhan.


11. Kepatuhan Anti-Pencucian Uang (APU) : 

Terapkan prosedur dan kebijakan APU yang ketat untuk mencegah pencucian uang dan pembiayaan terorisme. Pelatihan karyawan Anda untuk mengenali tanda-tanda transaksi mencurigakan.


12. Auditor Eksternal : Lakukan audit eksternal secara berkala untuk memverifikasi kepatuhan Anda terhadap regulasi dan kebijakan yang berlaku.


Menghimpun dana masyarakat adalah tanggung jawab besar, serta menjaga integritas dan kepercayaan para nasabah sangatlah penting. Dengan mematuhi regulasi, memberikan layanan yang baik, dan menjaga keamanan data, BPR atau LKM Anda dapat berhasil dalam menghimpun dana masyarakat secara tepat, profesional, dan aman.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!

🙏🏻🙏🏻


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

02 | SERI MANAJEMEN PERKREDITAN (Tips Agar Portofolio Kredit Selalu Sehat)

Sektor kredit atau pembiayaan merupakan bisnis inti bagi Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Oleh karena itu, sudah sepatutnya Kita - selaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan harus menjaga agar portofolio kreditnya senantiasa sehat. 


Pengertian sehat di sini adalah bahwa kredit yang tersalurkan harus menguntungkan, suku bunganya bersaing, mitigasi risikonya tepat, risikonya terukur, dan NPL nya di bawah 5%. Di samping itu produk tersebut harus bisa memberikan solusi bagi Masyarakat luas dalam memenuhi kebutuhan pendanaan dalam rangka meningkatkan usaha dan kesejahteraannya. 


Untuk menjaga agar portofolio kredit pada selalu sehat, maka ada beberapa tips yang bisa diterapkan oleh BPR dan LKM, yakni :


1. Seleksi Calon Peminjam dengan Cermat :

Lakukan analisis kredit yang hati-hati sebelum menyetujui pinjaman kepada calon peminjam.

Periksa riwayat kredit, kapasitas pembayaran, dan reputasi calon peminjam.


2. Diversifikasi Portofolio Kredit :

Sebarkan risiko dengan mengalokasikan pinjaman ke berbagai sektor ekonomi dan jenis bisnis.

Hindari konsentrasi risiko di satu sektor atau calon peminjam tunggal.


3. Penetapan Suku Bunga yang Rasional :

Tetapkan suku bunga yang wajar dan kompetitif sesuai dengan tingkat risiko masing-masing pinjaman.

Pertimbangkan suku bunga yang dapat membantu mengatasi risiko kredit.


4. Pengelolaan Risiko Kredit yang Baik :

Terapkan proses pemantauan kredit yang efektif, termasuk pemantauan terhadap pembayaran dan perubahan dalam kondisi peminjam.

Segera tindak lanjuti keterlambatan pembayaran atau masalah lainnya.


5. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan :

Pastikan karyawan yang terlibat dalam pengelolaan kredit memiliki pelatihan dan pengetahuan yang memadai.

Upayakan peningkatan kemampuan dalam analisis kredit dan manajemen risiko.


6. Sistem Informasi dan Teknologi yang Canggih :

Gunakan teknologi untuk memperbaiki efisiensi dalam proses pemberian kredit dan pemantauan portofolio.

Sistem informasi yang baik dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik.


7. Pemantauan Terus-Menerus :

Lakukan pemantauan portofolio secara berkala untuk mengidentifikasi risiko dan masalah potensial.

Perbaharui informasi calon peminjam secara rutin.


8. Pembentukan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) atau  CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) :

Siapkan cadangan untuk mengantisipasi kerugian yang memadai untuk mengatasi risiko kredit yang mungkin timbul akibat gagal bayar.

Siapkan cadangan kerugian penurunan nilai yang memadai untuk mengatasi risiko kredit yang mungkin timbul.


9. Pelatihan Peminjam :

Edukasi peminjam tentang manajemen keuangan dan tanggung jawab dalam melunasi pinjaman.


10. Kebijakan dan Prosedur yang Jelas :

Miliki kebijakan dan prosedur yang jelas dalam pengelolaan kredit, termasuk ketentuan untuk penagihan yang efisien.


11. Kolaborasi dengan Regulator :

Jalin kerja sama dengan regulator dan otoritas pengawas untuk memastikan kepatuhan dengan peraturan dan standar yang berlaku.


12. Evaluasi Terus-Menerus :

Tinjau dan evaluasi portofolio kredit secara berkala untuk mengidentifikasi potensi perbaikan dan peningkatan.


Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan BPR dan LKM dapat menjaga portofolio kredit mereka agar tetap sehat dan mengurangi risiko yang mungkin timbul dalam bisnis mereka.


Adalah suatu keniscayaan bagi BPR dan LKM, untuk senantiasa berpegang teguh pada Tata Kelola yang baik (GCG), Prinsip kehati-hatian, serta  Manajemen Risiko yang terukur dan tepat dalam aktivitas pemberian kredit.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!


Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

01 | SERI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (Membentuk Tim Juara)

Setelah penantian selama 36 tahun, pada Desember 2022 kesebelasan Argentina berhasil menjadi Juara Dunia Sepakbola yang diselenggarakan di Qatar. Keberhasilan ini tidak lepas dari ikatan yang kuat dan rasa kebersamaan tim, dibawah bimbingan pelatih cerdas dan bertangan dingin, yakni : Lionel Scaloni.

Tim Argentina menapaki jalan berat menuju final : menghadapi persaingan ketat di babak penyisihan grup dan mengatasi beberapa tantangan di babak sistem gugur. Namun, mereka tetap bersatu dan fokus, didorong oleh keinginan bersama untuk membawa trofi kembali ke Argentina.

Meski berasal dari klub dan latar belakang berbeda, para pemain mampu mengesampingkan egonya untuk bekerja demi tujuan bersama. Mereka bersatu dalam tekad untuk mewakili negaranya dengan bangga dan membawa kegembiraan bagi para penggemarnya. Mereka menjaga integritas mereka dengan rajin berlatih, patuh pada aturan, berdisiplin tinggi, sehingga tercipta tim yang  solid dalam setiap laga.

Seperti halnya Tim Kesebelasan Argentina, maka Badan Perekonomian Rakyat (BPR) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) juga bisa membentuk Tim Juara. Yaitu, Tim yang bisa membawa BPR dan LKM mendapatkan keuntungan yang signifikan, memberikan layanan yang prima, menjaga tingkat kesehatannya agar selalu Sehat, mematuhi regulasi yang telah ditetapkan oleh Regulator, serta mampu menerapkan Tata Kelola Perusahaan (GCG) secara tepat. 

Berikut adalah beberapa langkah-langkah yang dapat membantu Anda menciptakan Tim Juara dengan integritas dan soliditas tinggi, pada institusi tempat Anda bekerja, yakni :


1. Membangun Budaya Organisasi yang Jelas:

Tentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip inti yang akan menjadi dasar budaya organisasi Anda. Pastikan integritas, kejujuran, dan kerja sama menjadi fokus utama.

Komunikasikan budaya ini kepada semua anggota tim dan pastikan bahwa semua orang memahami pentingnya berintegritas dan bekerja sama.


2. Pemilihan dan Pengembangan Anggota Tim:

Pilih anggota tim yang memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan budaya organisasi Anda.

Berikan pelatihan dan pengembangan yang diperlukan agar anggota tim dapat memahami tugas mereka dan berkontribusi secara efektif.


3. Komunikasi yang Terbuka:

Penting untuk memiliki komunikasi yang terbuka dan jujur di antara anggota tim. Dorong anggota tim untuk berbicara terbuka mengenai masalah atau permasalahan yang muncul.

Berikan umpan balik yang konstruktif dan beri dukungan kepada anggota tim untuk berkembang.


4. Pemberian Tanggung Jawab yang Jelas:

Tentukan peran dan tanggung jawab setiap anggota tim dengan jelas. Pastikan bahwa setiap orang tahu apa yang diharapkan darinya.

Pastikan juga bahwa tanggung jawab yang diberikan sesuai dengan keahlian dan minat masing-masing anggota tim.


5. Transparansi dalam Pengambilan Keputusan:

Libatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan yang penting. Ini akan memberikan rasa kepemilikan dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap hasil akhir.

Pastikan bahwa proses pengambilan keputusan dilakukan secara adil dan transparan.


6. Fokus pada Tujuan Bersama:

Tetapkan tujuan yang jelas untuk tim dan pastikan bahwa semua anggota tim memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan tersebut.

Ingatkan anggota tim secara berkala tentang tujuan bersama dan kemajuan yang telah dicapai.

7. Reward dan Pengakuan:

Berikan penghargaan dan pengakuan kepada anggota tim yang berkinerja baik. Ini dapat berupa penghargaan finansial, promosi, atau pengakuan verbal.

Pengakuan ini dapat menjadi motivasi untuk anggota tim untuk terus berkontribusi dengan baik.


8. Penegakan Norma dan Etika:

Jangan ragu untuk menegakkan norma dan etika organisasi. Jika ada pelanggaran terhadap integritas atau perilaku yang tidak sesuai, tindakan tegas harus diambil.


9. Pembinaan dan Pembelajaran Berkelanjutan:

Selalu dorong anggota tim untuk terus belajar dan berkembang. Ini dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, atau pendekatan pembelajaran lainnya.


10. Contoh dari Pimpinan:

Pimpinan harus menjadi contoh yang baik dalam hal integritas dan kerja sama. Ketika pimpinan menunjukkan nilai-nilai ini, anggota tim akan lebih cenderung mengikuti contoh tersebut.


Membentuk teamwork yang solid dan berintegritas memerlukan waktu dan upaya yang konsisten, tetapi dengan implementasi langkah-langkah ini, Anda dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan dan keberhasilan organisasi Anda.


Demikian tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat!



Sugiarto / Sugih.

Trainer teregistrasi pada BNSP RI.

Associated Trainer pada beberapa DPD Perbarindo dan Public Speaking Academy.

MATERI PELATIHAN UNGGULAN TAHUN 2024 :


MATERI PELATIHAN TERBARU : 


NB : 

Semua materi pelatihan diupayakan memenuhi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dari Departemen Tenaga Kerja RI & Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sesuai ketetapan OJK. 

BERANDA - BERANDA - BERANDA - BERANDA - BERANDA